Semakin Pudarnya Sofan Santun

Perubahan teknologi dari hari ke hari semakin cepat dan membantu kerjaan manusia. Tetapi perubahan teknologi pula yang menyebabkan semakin menipisnya sikap sopan santun diantara manusia saat ini.

Dengan perkembangan teknologi audio visual kita disuguhi banyak tayangan yang tidak mendidik seperti banyak film yang memperlihatkan adegan kekerasan dan pornografi atau sex bebas. Coba kita lihat banyak film-film barat yang melegalkan ciuman antara wanita dan pria yang nota benenya bukan muhrim.

Banyaknya adegan yang tidak sesuai dengan budaya kita dari film-film luar negeri. Misalnya saja sekarang semakin banyak orang yang tidak merasa malu melakukan ciuman di ruang terbuka bahkan melakukan adegan khusus dewasa di tempat umum.

Kemudian banyak kata-kata tidak sopan yang diucapkan oleh tokoh atau artis yang ditiru oleh penonton khususnya anak-anak. Sebenarnya kata-kata tersebut tidak sopan diucapkan oleh anak kepada orang yang lebih tua atau bahkan sesama temannya.

Coba perhatikan perubahan anak-anak atau siswa-siswi atau mahasiswa-mahasiswi kita. Dulu kita ketemu guru selalu memberi salam dan berjabatan tangan dengan mencium tangannya tetapi sekarang sudah semakin jarang dilihat tetapi masih ada yang melakukan itu.


Dulu jika ada dua orang yang sedang berbicara dijalan kemudian kita lewat ditengah-tengahnya maka kita mengucapkan kata-kata “punten”, “permisi” atau “maaf” tetapi sekarang sering melihat orang yang lewat slonong boy saja alias tidak pernah berkata-kata sopan seperti dulu.

Mari kita lihat perubahan yang lain. Dulu sebelum kita berangkat ke sekolah biasanya berjabat tangan dengan kedua orang tua kita dan mencium tangannya. Tetapi sekarang sudah banyak anak yang hanya pergi cuma minta uang kemudian langsung berangkat.

Sudah saatnya kita mulai berbenah sebelum budaya dan tradisi ketimuran kita hilang ditelan derasnya budaya yang masuk ke Indonesia. Ternyata benar Indonesia memang sudah merdeka tetapi ternyata penjajahan kebudayaan telah berkembang dan berakar di bumi pertiwi ini. Mari kita lakukan perubahan.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment