Dulu Ulama Dirangkul, Kini Mereka Diburu


MUI : Cari Teroris Jangan Cuma Jenggot & Gamis

Pesantren adalah salah satu unsur penting dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Pada dasawarsa terakhir abad ke-19 sejumlah pemuda dari berbagai kawasan Nusantara yang sedang mendalami ilmu agama di Mekkah, antara lain KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, berikrar di depan Kakbah untuk berjuang bersama mengusir penjajah. Para pemuda itu adalah alumni dari berbagai pesantren terkemuka di Nusantara.

Pesantren telah berabad-abad sebelumnya membantu banyak pejuang di daerah yang berperang melawan Belanda. Ikrar di atas merefleksikan adanya kesamaan jiwa menghadapi penjajah yang notabene beragama lain. Pesantren konsisten menolak kerja sama dengan Belanda. Pendiri Pesantren Tebuireng Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari menolak tawaran penghargaan dan bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda.

Panglima Tentara Jepang di Indonesia menyadari keberadaan para tokoh pesantren yang mempunyai banyak pengikut. Maka KH Hasyim Asy'ari diminta menjadi kepala sebuah lembaga yang mengurusi masalah yang berkaitan dengan agama walaupun sebelumnya beliau pernah ditahan oleh Jepang selama beberapa bulan. Dalam menjalankan tugas sehari-hari di Jakarta, beliau diwakili oleh KH A Wahid Hasyim.

Resolusi Jihad
Para tokoh pesantren juga aktif berjuang bersama tokoh pejuang kemerdekaan lainnya dalam merumuskan pembukaan dan batang tubuh UUD walaupun harus diakui bahwa tokoh-tokoh utama dalam upaya perumusan itu adalah tokoh-tokoh nonpesantren.

Hal itu wajar saja karena para tokoh pesantren memang tidak banyak yang bergelut dengan ilmu-ilmu nonagama. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Sekutu mengambil alih kekuasaan di Indonesia dari tangan Jepang. Belanda sebagai bagian dari Sekutu mendompleng kekuatan Sekutu. Mereka memanfaatkan NICA (the Netherland Indies Civil Adminisration).

Banyak orang Indonesia menjadi kaki tangan NICA, Melihat gejala itu, PBNU mengambil langkah mengeluarkan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. KH Hasyim Asy'ari membacakan fatwa yang mewajibkan para muslimin yang layak maju perang yang berada dalam radius sekitar 90 km dari Surabaya untuk membantu TNI dalam perjuangan melawan Belanda. Yang gugur dalam perjuangan itu akan menjadi syuhada, mati syahid.

Fatwa itu mendorong puluhan ribu muslimin untuk bertempur melawan Belanda yang berlindung di balik tentara Inggris. Tanpa resolusi itu mungkin semangat jihad melawan Belanda dan Sekutu tidak terlalu tinggi. Itulah salah satu jasa pesantren dalam membela negara Indonesia. Sayang sekali dalam buku sejarah yang saya pelajari pada saat di SMP dan SMA, peristiwa itu tidak dicantumkan.

Kekerasan Politik


Baca : Madiun Affairs, 19 September 1948


Muso. Baca : Madiun Affairs, 19 September 1948

Pada 18 September 1948 tokoh PKI Muso yang belum lama kembali dari pelarian di Rusia memulai pemberontakan di Madiun. Dia menyatakan kepada rakyat untuk memilih Soekarno-Hatta atau Muso. Banyak sekali kiai dan tokoh pesantren yang dibunuh oleh anggota PKI dan tentara yang berpihak kepada mereka.

Dalam tempo cepat, TNI dibantu kaum muslimin berhasil memadamkan pemberontakan. Tahun 1950 PKI direhabilitasi dan boleh aktif kembali. Dalam Pemilu 1955 PKI muncul sebagai kekuatan keempat. Selanjutnya dalam era Demokrasi Terpimpin, PKI mendapat angin dari Bung Karno sehingga kekuatan politiknya di atas kekuatan politik lain. Bung Karno mengalami banyak tindak kekerasan politik untuk mencoba membunuhnya.Yang pertama adalah penggranatan di sekolah Cikini pada 1957. Itulah peristiwa kekerasan politik pertama yang saya ketahui.

Selanjutnya Bung Karno juga mengalami percobaan pembunuhan kedua pada salat Idul Adha di Jakarta. Bung Karno luput dan yang terkena adalah Ketua DPRGR Zainul Arifin dari Partai NU. Zainul Arifin tidak terbunuh, tetapi beberapa bulan kemudian wafat. Dalam sejumlah tindak kekerasan politik di atas, tidak ada seorang pun dari pesantren yang terlibat. Tahun 1965 PKI kembali memberontak dalam Peristiwa Gerakan 30 September. Kembali tokoh dan alumni tergerak untuk membantu TNI melawan kekuatan pemberontak.



Dalam suasana perang, sejumlah pemuda Islam terpaksa mengikuti instruksi TNI untuk melakukan tindak kekerasan politik yang menelan korban amat banyak. Dalam tahun 1945, 1948, dan 1965/1966 banyak alumni pesantren dan kaum muslimin melakukan peperangan yang bisa dikategorikan sebagai jihad. Memang tindakan kekerasan tahun 1965 menempatkan sejumlah pesantren pada posisi membunuh atau dibunuh. Peristiwa ini menimbulkan bekas kejiwaan mendalam kepada keluarga korban. Alumni pesantren juga tergabung dalam Syarikat yang terjun untuk mendampingi mereka.

Pesantren Ngruki


Pesantren tidak pernah mengajarkan kekerasan.

Oktober 2002 terjadilah pengeboman di Bali yang menelan ratusan korban jiwa. Walaupun ada keraguan dari sejumlah pihak, termasuk beberapa jenderal tentang kemampuan para terdakwa untuk melakukan pengeboman itu, pengadilan memutuskan hukuman mati terhadap Amrozi dkk.

Tahun 2003 kembali terjadi pengeboman, kali ini di Hotel JW Marriott. Tahun 2004, Kedutaan Australia yang menjadi sasaran.Tahun 2005 sekali lagi Bali menjadi sasaran pengeboman. Terakhir adalah pengeboman di Hotel Marriott dan Ritz Carlton. Amrozi, Imam Samudra, Ali Ghufron, Asmar Latin Sani, dll adalah alumnus Pesantren Ngruki.

Pelaku lain adalah pemuda yang berhasil dibina oleh ustaz untuk bersedia melakukan tindakan yang amat dilarang di dalam Islam, tetapi pembina berhasil meyakinkan pemuda-pemuda tersebut bahwa pengeboman itu adalah jihad dan pelakunya akan masuk surga. Beberapa tahun lalu banyak pihak menduga bahwa pesantren adalah sarang terorisme. Kini dugaan (bahkan terkesan sebagai tuduhan) itu kembali muncul.

Tidak ada pesantren yang mengajarkan terorisme kepada santri. Pesantren memberi ajaran Islam yang menganjurkan perbuatan baik, menjadi manusia yang berguna bagi orang lain, membantu mereka yang kekurangan.

Islam tidak membenarkan ajaran "tujuan menghalalkan cara". An-Nisa: 93 jelas melarang kita membunuh dengan sengaja. Al Ma'idah: 32 melarang kita membunuh tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Kalau kita melakukannya, sama dengan membunuh semua orang di dunia. (okezone)

Cari Teroris Jangan Cuma Jenggot & Gamis


Dulu Ulama Dirangkul, Kini Mereka Diburu

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam tidak terjebak pada kecurigaan yang berlebihan terhadap aktivitas dari kelompok Islam tertentu yang melakukan dakwah selagi ajaran yang disampaikan tidak bertentangan dengan Islam.

Pernyataan MUI ini berkaitan dengan 12 Orang warga Sulawesi, pengikut Jamaah Tabligh yang ditangkap polisi di Purbalingga, Banyumas, Jawa Tengah. Mereka diciduk karena dilaporkan warga ketika tengah berdakwah di Masjid Nurul Huda, Desa Sida Kangen, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga.

Menurut pengurus MUI KH Amidan, kecurigaan yang berlebihan akan mengakibatkan ketakutan umat dalam menjalankan perintah agama. Masyarakat menjadi takut mengikuti kegiatan dakwah, datang ke masjid atau menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren.

"Janganlah memperbesar kecurigaan yang berlebih. Kalau soal teroris itu urusan intelijen. Masyarakat memang harus waspada, tapi tidak gampang menuduh karena berbahaya nantinya," papar Amidan kepada okezone, Selasa (18/8/2009).

Dia mengungkapkan, Jamaah Tabligh memang melakukan syiar Islam dari satu masjid ke masjid lainnya. Mereka itikaf atau tinggal di dalam masjid dan berdakwah untuk memakmurkan rumah Allah tersebut.

"MUI melihat ibadahnya sama, ajarannya tak ada yang berbeda. Malah mereka lebih kusuk dalam beribadah. Mereka memperbanyak dzikir, puasa, dan tinggal di masjid untuk beberapa lama. Kemudian pindah ke masjid lainnya untuk salat subuh," terangnya.

Namun yang berbeda, sambung dia, mungkin dalam gaya penampilan seperti cara berpakaian, berjanggut, dan sebagainya. Hal itu karena pengaruh dari tradisi Jamaah Tabligh yang berkembang di Pakistan. "Jamaah Tabligh dari Pakistan menyebar sampai ke Malaysia dan Indonesia. Di Jakarta pengikutnya bisa ditemui di Kebon Jeruk, Jalan Hayam Wuruk," terang Amidan.

Sebab itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap aktivitas Jamaah Tabligh. Mereka ke tinggal di sebuah masjid tentunya sudah koordinasi dengan panitia masjid. "Jadi tergantung panitia masjidnya, mungkin menerima dengan persyartan seperti harus jaga kebersihan karena mereka hidup di masjid," imbuhnya.


Sumber : Swaramuslim
Previous
Next Post »
Thanks for your comment